Pandangan Ferdinand de Saussure terhadap Dikotomi Konsep Lingustik

Oleh: Bagus Tri Handoko

 

Ferdinand

1. Pendahuluan

Mongin-Fedinand de Saussure (1857-1913) amat berjasa dalam menjelaskan hakikat bahasa. Bahasa tidak dapat dilihat maupun disentuh – tidak kongkrit. Namun, suatu bahasa, seperti bahasa Prancis atau bahasa Indonesia, dapat dipelajari. Jika bahasa Indonesia merupakan sesuatu, bahasa Indonesia tetap tidak sejenis benda kongkrit seperti gudeg atau nasi rawon.

Ferdinand de Saussure, seorang wiyatawan Swiss, lahir di Jenewa dari keluarga Protestan Prancis (Huguenot) yang beremigrasi Lorraine saat perang agama di Prancis pada  akhir abad ke-16. Saussure amat berbakat dalam linguistik. Pada 1878 (dua tahun sebelum memperoleh gelar doktor dari Universitas Leipzig, dekat Berlin, dengan predikat summa cum laude), ia menulis arya yang amat terkenal Mémoire sur le système primitive des voyelles dans le langues indo-européenes, diterbitkan beberapa pekan setelah menginjak usia 21, ketika ia masih mahasiswa di Jerman. Ia amat menonjol di banding teman-teman sekelasnya yang kemudian terkenal dengan nama kelompok Junggrammatiker. Pada 1881-1891 ia mengajar di Échole Pratique des Hautes Études di Paris dan kemudian kembali ke Jenewa untuk suatu jabatan. Karya-karyanya banyak membahas linguistik histories ketimbang linguistik sinkronis dan juga dilakukan dengan analisis terinci ketimbang bidang yang menyebabkan dia sekarang terkenal, kajian teoretis umum. Pada 1906 ia menggantikan seorang wiyatawan mengajar ‘Linguistik umum dan sejarah dan perkembangan bahasa-bahasa Indo-Eropa’. Ia mengajar menghabiskan sesi tersisa dan sesi-sesi 1908-09 dan 1910-11. Bukunya yang amat terkenal hingga kini Cours de Linguistique Générale (Saussure 1916), diterbitkan tiga tahun setelah ia meninggal (1913), merupakan suntingan kumpulan catatan kuliah para mahasiswanya.

Setelah bersama para Junggramatiker banyak mengaji bidang linguistik historis, yang nota bene menggunakan pembahasan diakronis, Saussure mengemukakan bahwa kajian bahasa secara sinkronis amat perlu. Bahkan baginya, kajian sinkronis bahasa mengandung kesistematisan tinggi sedangkan kajian diakronis tidak. Malahan, bagi penggunanya sejarah bahasa tidak ada. Sejarah bahasa tidak memberikan apa-apa kepada pengguna bahasa mengenai cara penggunaan bahasa. Ada yang perlu bagi pengguna bahasa, yaitu état de langue atau suatu keadaan bahasa. Suatu keadaan bahasa terbebas dari dimensi waktu dalam bahasa,  yang justru memiliki watak kesistematisan. Kajian sinkronis justeru lebih serius dan sulit. Sistem keadaan bahasa ‘sinkronik’ seperti sistem permainan catur. Setiap buah catur (setara dengan suatu unit bahasa) memiliki tempat tersendiri dan memiliki keterkaitan tertentu dengan buah lain, dan kekuatan serta pola gerak/jalan tersendiri. État de langue adalah jaringan keterkaitan yang menentukan nilai suatu elemen benar-benar tergantung, langsung atau tak langsung, pada nilai elemen-elemen yang lain.

2. Dikotomi dalam Linguistik ala Saussure

2.1 Dikotomi Langue dan Parole

Bagi kebanyakan mahasiswa jurusan linguistik, memahami konsep linguistik strukturalisme Ferdinand de Saussure seringkali membingungkan. Alih-alih mengkontekstualisasikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari, membaca teorinya saja bisa membuat kita terjebak dalam labirin yang membingungkan (meminjam istilah Benny H. Hoed). Mahasiswa sering mengeluhkan pen-dikotomis-an antara signifiant (penanda), signifie (petanda) dan langue, parole di satu sisi, serta hubungan keterkaitan di antara keduanya di sisi lain. Lebih membingungkan lagi ketika membawa kajian ini ke dalam bidang semiotika di mana mahasiswa harus bisa membedakan dan menghubungkan konsep semiotika Saussure dan Peirce. Dalam konteks hubungan Langue dan Parole, banyak yang memaknai hubungan keduanya sebagai hubungan satu arah dimana langue selalu saja menentukan parole. Pandangan ini tentu saja keliru karena dengan pemahaman seperti itu maka konsep strukturalisme akan kehilangan relevansi-nya dalam masyarakat. Melalui renungan dari sebuah percakapan non-formal, saya mencoba melihat konteks untuk menyederhanakan konsep Langue dan Parole. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan pemahaman yang jelas mengenai konsep tersebut.

Suatu ketika dalam suatu percakapan di kampus, seorang teman tiba-tiba memotong pembicaraan sambil membenarkan struktur kalimat yang saya ucapkan. ‘struktur kalimat yang kamu ucapkan kurang sesuai dengan gramatika Bahasa Indonesai’ teman tersebut berkata. ‘seharusnya kamu ucapkan dia mau ke mana? atau dia mau pergi ke mana? ” lanjutnya sambil menjelaskan bahwa struktur bahasa Indonesia adalah ‘subyek + predikat (kata kerja) atau subyek + keterangan tempat’ membetulkan kalimat yang sebelumnya saya ucapkan “mau ke mana dia?

Dalam percakapan di atas, struktur Bahasa Indonesia yang disodorkan teman saya berlaku sebagai Langue yakni kaidah-kaidah yang berlaku. Sedangkan kalimat yang saya ucapkan adalah Parole yakni praktik berbahasa dalam kehidupan masyarakat. Sebelumnya dijelaskan bahwa Langue dan Parole berada pada posisi dikotomis. Dalam konteks ini, langue dipahami sebagai pola umum (kolektif) yang berlaku dalam sebuah bahasa pada contoh di atas disebut sebagai ‘struktur Bahasa Indonesia’ sedangkan parole merupakan ucapan individual sebagai  manifestasi dari Langue yang telah ada pada kognisi manusia.

Berikut mari kita lihat hubungan langue-parole dalam masyarakat. Sebagaimana dinyatakan di atas, hubungan keduanya tidak boleh dilihat sebagai hubungan satu arah. Pada praktiknya, parole tidak selalu berevolusi mengikuti langue; percakapan yang terjadi dalam masyarakat tidak selalu harus mengikuti kaidah tata bahasa. Sebaliknya, seringkali gramatika bahasa harus disesuaikan dengan penggunaan bahasa karena bahasa adalah konvensi sosial. Dari sini dapat dipahami bahwa hubungan langue-parole adalah hubungan dua arah yang saling mempengaruhi.

Dalam pengertian umum, “langue” adalah abstarksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan “parole” merupakan expresi bahasa pada tingkat individu. Pandangan Saussure bahwa penyelidikan ilmiah terhadap bahasa tidak harus dilakukan secara historis dipengaruhi oleh Emile Durkheim (1858-1917) dalam karyanya Des Regles de la Methode Sociologiques (1885). Memang Saussure tidak pernah menyebutkan karya Durkheim sebagai inspirasi penyelidikan ilmiahnya, tetapi dari catatan-catatan kulihnya nyata bahwa ia memperhatikan teori Durkheim tersebut (Baert, 1998:17).

Untuk menjelaskan objek penelitian bahasa, Saussure mengenalkan tiga istilah dalam bahasa Perancis mengenai bahasa, yakni langue, parole dan langage (Baert, 1998:17). Yang dimaksud dengan parole ialah keseluruhan apa yang diujarkan orang, termasuk konstruksi-konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur, atau pengucapan-pengucapan yang diperlukan untuk menghasilkan konstruksi-konstruksi ini berdasarkan pilihan bebasnya (Wahab, 1989:7). Dengan demikian, parole adalah manifestasi individu dari bahasa. Jadi, parole itu bukan fakta sosial karena seluruhnya merupakan hasil individu yang sadar. Fakta sosial harus meliputi seluruh masyarakat dan menjadi kendala terhadapnya dan bukan memberinya pilihan bebas. Dalam masyarakat tentulah banyak parole dan realisasi dari kendala-kendala gramatikal suatu bahasa.

Gabungan parole dan kaidah bahasa oleh Saussure disebut langage. Walaupun meliputi seluruh masyarakat dan mengandung kendala sebagaimana terdapat dalam kaidah gramatikal, langage tidaklah memenuhi syarat sebagai fakta sosial karena terkandung di dalamnya faktor-faktor individu yang berasal dari pribadi penutur. Bila penutur pribadi dan perilakunya dimasukkan, selalu akan ada unsur kerelaan, yang merupakan unsur yang tak teramalkan. Langage tidak mempunyai prinsip keutuhan yang memungkinkan kita untuk menelitinya secara ilmiah.

Kalau kita tidak dapat menyisihkan unsur–unsur individu dari langage, maka kita dapat membuang unsur-unsur yang tak teramalkan. Dan kemudian kita akan memperoleh konsep bahasa yang sesuai dengan konsep fakta sosial. Inilah yang disebut langue. Saussure menggambarkannya sebagai “langage dikurangi parole”. Jelasnya, langue adalah keseluruhan kebiasaaan yang diperoleh secara pasif yang diajarkan oleh masyarakat bahasa, yang memungkinkan para penutur saling memahami dan menghasilkan unsur-unsur yang dipahami penutur dalam masyarakat. Menurut Saussure perhatian utama linguistik adalah langue, bukan parole.

Sebagaimana kesadaran kolektif hasil pemikiran Durkheim (Baert, 1998:13), langue sifatnya tidak sempurna dalam diri penutur. Dalam parole termasuk apapun yang diungkapkan penutur; langage mencakup apa pun yang diungkapkan serta kendala yang mencegahnya mengungkapkan hal-hal yang tidak gramatikal; dalam langue terdapat batas-batas negatif terhadap apa yang harus dikatakannya bila ia mempergunakan suatu bahasa secara gramatikal.

Dengan demikian langue tampaknya merupakan abstraksi. Saussure sendiri sadar akan hal itu, tetapi ia tidak merasa terhalang untuk mempelajari bahasa secara ilmiah karena (1) ia berpendirian bahwa “sudut pandang menciptakan objek penelitian, (2) tidak ada ilmu yang hanya mempelajari wujud-wujud konkret karena kalau demikian terpaksa ilmu itu mempelajari ciri-ciri individu yang tidak terbatas jumlahnya. Untuk membuat suatu penyelidikan ilmiah, menurut Saussure diperlukan “penyederhanaan secara konvensional atas data”, supaya objek dapat dibatasi secara tepat. Caranya ialah dengan mengabstrasikan hal-hal konkret yang dipelajari suatu ilmu. Dalam studi sinkronis kita mengabstrasikan fakta-fakta yang memang dalam perjalanan waktu berubah. Dengan demikian bahasa dapat diselidiki seolah-olah sebagai sistem atau sesuatu yang berkeadaan stabil, tanpa masa lampau atau masa depan.

Dapat disimpulkan bahwa Saussure berpandangan secara keseluruhan parole tidak dapat diselidiki karena bersifat heterogen. Sebaliknya langue dapat diselidiki karena bersifat konkret karena merupakan perangkat tanda bahasa yang disepakati secara kolektif. Tanda bahasa itu dapat diungkapkan menjadi lambang tulisan yang konvensional, sedangkan parole tidak mungkin digambarkan secara terinci karena ungkapan kata yang terkecil sekalipun melibatkan gerak otot yang tak terhitung jumlahnya yang sulit sekali dikenali dan ditandai dengan tulisan. Menurutnya, tanpa mempertimbangkan wicara bahasa dapat diselidiki secara ilmiah.

Ringkasnya, Saussure beranggapan bahwa aspek bahasa yang sepadan dengan fakta sosial itu sajalah yang merupakan objek penyelidikan ilmu linguistik. Langue bukannya fakta fisik, melainkan faktor sosial, yang dapat diselidiki secara ilmiah karena mengandung pola-pola di balik ujaran-ujaran penutur.

2.2 Dikotomi Diakronis dan Sinkronis

Kata “diakronik” berasal dari bahasa Yunani “dia” artinya sepanjang dan kata “chronos” yang berarti waktu. Dalam istilah linguistik, diakronik berarti studi bahasa dari waktu ke waktu. Sementara kata “sinkronik” juga berasal dari bahasa Yunani “syn” yang artinya bersama. Kata sinkronik artinya bersama dalam satu waktu. Dalam istilah linguistik, sinkronik berarti studi tentang kebahasaan untuk waktu tertentu. Dengan demikian, menurut Saussure bahasa dapat dilacak dari waktu ke waktu dan dipelajari untuk jangka waktu tertentu (Wahab, 1998:6; Baert, 1998:18; Crystal, 1974:6).

Menurut Saussure dalam menggunakan tanda-tanda bahasa yang menajdi unsure bahasa, para penutur tidak mesti tahu etimologi sebuah kata. Jarang mereka tahu perkembangan pembentukan kata yang dipergunakannya juga mereka tidak memerlukan pengetahuan itu untuk mempergunakan kata secara betul. Sepanjang hidupnya para penutur tidak perlu menyadari perubahan-perubahan dalam unsur-unsur bahasa lain.

Dari analogi ini nampak bahwa kajian sinkronis bahasa mempunyai beberapa keuntungan dari sudut praktis maupun ilmiah, lebih dari kajian historis. Pendekatan historis tidak dapat dimanfaatkan untuk mempelajari perkembangan bentuk-bentuk bahasa sampai diperoleh informasi yang andal tentang (1) hubungan sistematis di antara bentuk-bentuk itu dalam tahap bahasa sebelumnya, (2) perbedaan di antara hubungan sistematis dalam pelbagai tahap perkembangan bahasa. Ada kemungkinan bahwa data dari tahap sebelumnya sudah lenyap.

Jadi, linguistik historis dalam pandangan Saussure tidak ilmiah. Artinya, bidang ini memang tidak dan tidak dapat mempergunakan metode dan prinsip penyelidikan ilmiah. Untuk mempelajari sejarah suatu bahasa maupun untuk membandingkan dua bahasa yang berkerabat, deskripsi sinkronis yang cermat atas sekurang-kurangnya dua tahap yang sebanding tidak boleh ditinggalkan.

2.3 Dikotomi Signifie dan Signifiant

Seperti ditulis oleh Bertens (1985: 382), pembedaan tanda atas signifiant dan signifi? merupakan pokok terpenting dari pandangan de Saussure. Dengan ini ia berusaha melihat tanda sebagai sebuah kesatuan antara sesuatu yang bersifat material (signifiant/signifier/penanda) (Piliang 2003: 47), yaitu image acoustique atau citra bunyi (de Saussure 1973: 146), dengan sesuatu yang abstrak (signifi?/signified/petanda) (Piliang 2003: 47), yang disebutnya sebagai konsep (de Saussure 1973: 146). Citra bunyi tersebut juga tidak semata-mata fisik, tetapi psikis (psych?: sesuatu yang juga abstrak); penggunaan istilah materil hanya untuk membedakannya dari konsep (yang lebih abstrak) (de Saussure 1973: 146). Contoh, citra bunyi pohon merupakan penanda yang petandanya adalah “konsep tentang pohon”. Asosiasi antara bunyi dan konsep “pohon” inilah yang disebutnya tanda.

2.4 Dikotomi Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik

Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan. Menurut Kridalaksana, hubungan sintagmatik ini bersifat linear. Misalnya dalam kalimat “Saya menulis artikel”, terdapat hubungan sintagmatik antara saya, menulis dan artikel dalam pola kalimat SPO (Subyek – Predikat – Obyek).

Sedangkan hubungan paradigmatik, menurut Kridalaksana, merupakan hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam tataran tertentu dengan unsur-unsur lain di luar tataran itu yang dapat dipertukarkan. Dalam kalimat di atas “Saya menulis artikel” kata “Saya” dapat dipertukarkan dengan kalimat sejenis. Karena unsur kata “Saya” merupakan kata benda dan hidup (animate) yang berfungsi sebagai subyek dalam kalimat tersebut, maka kata “saya” dapat dipertukarkan dengan kata “adik”, “Budi”, atau “Orang” itu.

Senada dengan pemaham di atas, Jakobson muncul dengan istilah “axis” (poros) yang artinya hubungan. Dua poros tersebut adalah poros sintagmatik dan poros paradigmatik. Dapat dikatakan bahwa poros sintagmatik merupakan poros horisontal, sedangkan poros paradigmatik merupakan poros vertikal. Kita bisa memerikan penjelasan ini dengan gambar:

Keterangan

X: poros sintagmatik

Y: poros paradigmatik

de Saussure memperjelas gagasannya dengan memberi analogi sebuah tiang bangunan. Tiang itu berhubungan satu sama lain dan dengan bagian lain dari bangunan (secara sintagmatik) dan berhubungan dengan jenis tiang lain yang bisa saja dipergunakan atau dipertukarkan (paradigmatik). Pemahaman tersebut bisa diterapkan dalam contoh berikut ini.

Paradigmatik (vertikal) Paradigmatik (vertikal) Paradigmatik (vertikal) ——————–
Saya menulis artikel Sintagmatik (horisontal)
Ibu membaca surat Sintagmatik (horisontal)
Orang itu membeli buku Sintagmatik (horisontal)

2.5 Dikotomi Bentuk dan Substansi Bahasa

Menurut  Saussure (1988:205), peran langue yang  khas dalam  hubungannya  dengan  pikiran  bukanlah  menciptakan sarana bunyi materiel untuk pengungkapan gagasan,  melainkan  menjadi perantara di antara pikiran dan bunyi.  Dalam kondisi demikian, persatuan keduanya mau tidak mau  keluar sebagai  pembatasan yang timbal balik dari  satuan-satuan. Pikiran yang kodratnya kacau balau dipaksa untuk memperjelas  diri ketika terpilah. Jadi, tidak  ada  materialisasi pikiran  ataupun  spiritualisasi bunyi,  tetapi  yang  ada adalah  hubungan “pikiran-bunyi” yang mengakibatkan  pemilahan.  Langue mengolah satuan-satuannya sambil  membentuk diri di antara dua keadaan tersebut.

Langue  dapat  dibandingkan dengan  selembar  kertas. Pikiran  adalah bagian dari recto, sedangkan bunyi  adalah bagian  verso.  Orang tidak mungkin memotong  recto tanpa memotong  sekaligus  verso.  Dalam  langue  tidak  mungkin dipisahkan bunyi dari pikiran, maupun pikiran dari  bunyi. Linguistik bergerak di daerah perbatasan kedua unsur  yang saling berkombinasi. Kombinasi itu menghasilkan bentuk dan bukan substansi (Saussure, 1988:206).

Pandangan  tersebut memberi Saussure  kejelasan  atas arti  tanda bahasa yang arbitrer karena tidak  ada  sistem dari  luar  yang mengatur penggabungan bentuk  dan  makna. Lebih  lanjut, Saussure mengungkapkan bahwa sangat  keliru untuk  menganggap  unsur bahasa hanya  merupakan  gabungan bunyi dan konsep. Hal semacam itu berarti memisahkan unsur bahasa  dari  sistemnya dan memberikan kesan  bahwa  orang memulai  dari unsurnya dan baru kemudian membentuk  sistem dengan mengumpulkannya. Padahal, seharusnya dia mulai dari sistem  yang  utuh dan melalui analisis  diperoleh  unsur-unsurnya.

 

2.6 Dikotomi Bahasa sebagai Fakta Sosial dan Fakta Psikologis

Saussure  lebih menekankan bahwa bahasa adalah  fakta sosial.  Hal ini terjadi karena menurutnya bahasa  adalah sistem  tanda (Sampson, 1980: 56).  Sebagai sistem  tanda, bahasa  merupakan  kesadaran  masyarakat  (bersama) yang bersifat  arbitrer.  Karena sebagai  fakta  sosial,  tidak seorang pun yang dapat menguasai bahasa ibu dengan sempurna.

Menurut  penjelasan  ini bahwa seseorang  hanya  akan dapat  mengungkapkan  kalimat  tertentu  bila  dia  pernah mendengarnya.  Atau  dengan kata lain bahwa  kalimat  yang diungkapkannya itu telah ada di masyarakat. Apakah  kenyataannya demikian bila seseorang berbahasa. Manusia  adalah makhluk kreatif. Akibatnya, bisa saja manusia  menciptakan sesuatu  (dalam  hal ini kalimat), yang  sebelumnya  tidak ditemukan. Ini semua bukan fakta sosial, sebab  menyangkut kreativitas,  yang nota bene merupakan  fakta  psikologis. Dengan  demikian, bahasa bukan hanya merupakan  fakta  sosial, melainkan juga fakta psikologis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s